Bissu (Budaya Pangkep)

In English

> Bissu
Bissu is clan priest  that have no faction gender  in trust  traditional “Tolotang”  one that followed by community Amparita Sidrap  in society Bugis  of South Sulawesi  at Sulawesi island , Indonesia . Bissu's faction by and large so-called "outside limitation gender", a "creature that don't male or female", or as "having role ritual ", where are they "as intermediate man  and God ". No definitive cogent explanation for if mean "outside limitation jender" and how that mention is begun.

> Background
Bissu not sparse is figured and is looked on as waria , it because of society misunderstanding announces in there are many history  and their role in society. To become Bissu, someone shall fuse all gender's aspect. In there are many this example their matter shall be borne by character hermafrodit  or individual that interseksual . There is also Bissu's example appearance whereabouts Bissu male or female utterly being formed sexually.

Interseksual's role a Bissu that unusual deep Bugis's society traditional not exclusive ala is engaged anatomy  their body, but their role in culture Bugis . gender's devoid id they (or kemencakupan about all gender) and type sort character that can't be allocated in accurate figure to gender whatever.

It is evident in trick having dress  Bissu. Bissu puts on a sort gown and dress that doesn't be put on by other gender, but also insert element and dress character "man" and "female", one that words why faction Bissu can't at conceive of waria, since they just are conceded to use dress that fit for caste  their gender.

> Role in cultural bugis
Unique role that done by Bissu's faction in culturizes Bugis so hand in glove bearing it with ketakterbatasan gender's state they. Estimated that, since we are human one live in to turn back a gender's limitation, we even no medial the world which descry and that hidden. This think is preconceived kindred with early IDE Moslem  about" Khanith " and" Mukhannathun " one that as "innocent bounds guards" and marks sense position one par for interseksual and transgender  whatever available in traditional Moslem culture given, but in this case descries Bissu's culture stem of Sulawesi region culture that far earlier of cultural Moslem.

In Bugis's culture, Bissu usually dimintai while advice "given assent" of spiritual the world power (spiritual) necessary. It happens e.g. while Bugis's person Sulawesi departs for trip on the up grade pilgrim  to Mekah . In situation while dimintai advice, a Bissu will do ritual  to concede genie  one that pretty good to obsess them and for speaking as courier of the world not in view.
Bissu's faction already been coached recognised with its uniqueness where they are trusted not vulnerable absolutely will sharp weapon .

In Indonesia

> Bissu
Bissu adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan di Pulau Sulawesi, Indonesia. Golongan Bissu umumnya disebut "di luar batasan gender", suatu "makhluk yang bukan laki-laki atau perempuan", atau sebagai "memiliki peran ritual", dimana mereka "menjadi perantara antara manusia dan dewa". Tidak ada penjelasan meyakinkan definitif untuk apakah arti "di luar batasan jender" dan bagaimana sebutan tersebut dimulai.

> Latar Belakang
Para Bissu tidak jarang digambarkan dan dianggap sebagai waria, hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman masyarakat awam dalam banyak sejarah dan peran mereka dalam masyarakat. Untuk menjadi Bissu, seseorang harus memadukan semua aspek gender. Dalam banyak contoh ini berarti mereka harus dilahirkan dengan sifat hermafrodit atau individu yang interseksual. Ada juga muncul contoh Bissu di mana Bissu laki-laki atau perempuan sepenuhnya terbentuk secara seksual.

> Peran Dalam Budaya Bugis
Peran interseksual seorang Bissu yang tidak biasa dalam masyarakat Bugis tradisional tidak secara eksklusif berhubungan dengan anatomi tubuh mereka, tetapi peran mereka dalam kebudayaan Bugis. Identitas ketiadaan gender mereka (atau kemencakupan tentang segala jenis kelamin) dan karakter berbagai jenis yang tidak dapat dialokasikan secara akurat kepada jenis kelamin apa pun.

Hal ini terbukti dalam cara berpakaian para Bissu. Para Bissu mengenakan sejenis gaun dan pakaian yang tidak dikenakan oleh jenis kelamin lain, namun juga memasukkan elemen dan karakter pakaian "pria" dan "perempuan", yang menjelaskan mengapa golongan Bissu tidak dapat disebut sebagai waria, karena mereka hanya diizinkan untuk memakai pakaian yang sesuai untuk kasta gender mereka.

Peran unik yang dilakukan golongan Bissu dalam budaya Bugis sangat erat kaitannya dengan status ketakterbatasan gender mereka. Diperkirakan bahwa, karena kita adalah manusia yang tinggal di balik suatu batasan gender, kita pun tidak ada di tengah-tengah dunia yang tampak dan yang tersembunyi. Pikiran ini diduga mirip dengan ide awal Muslim tentang "Khanith" dan "Mukhannathun" yang menjadi "pengawal batas-batas suci" dan adanya posisi setara untuk para interseksual dan transgender yang ada dalam budaya Muslim tradisional tertentu, tetapi dalam kasus ini tampaknya budaya Bissu bersumber dari budaya daerah Sulawesi yang jauh lebih awal dari budaya Muslim.

Dalam budaya Bugis, para Bissu biasanya dimintai nasihat ketika "persetujuan tertentu" dari kekuasaan dunia batin (spiritual) diperlukan. Hal ini terjadi misalnya ketika orang Bugis Sulawesi berangkat untuk perjalanan naik haji ke Mekah. Dalam situasi ketika dimintai nasihat, seorang Bissu akan melakukan ritual untuk mengizinkan jin yang sangat baik untuk merasuki mereka dan untuk berbicara sebagai utusan dari dunia tak nampak.
Golongan Bissu yang telah terlatih dikenal dengan keunikannya dimana mereka dipercaya tak mempan sama sekali akan senjata tajam.

Ctt : Yang bercetak miring belum diartikan kedalam Bahasa Inggris

0 comments: